Svara Semesta, Penjelajahan Ayu Laksmi [Album Baru]

JAKARTA, KOMPAS.com — “Ini mimpi besar saya,” begitu ujar penyanyi asal Bali Ayu Laksmi di acara peluncuran album terbarunya sekaligus konsernya, Svara Semesta, di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (25/11/2010).

Bukan sekadar basa-basi ucapan yang terlontar dari mulut tipis mantan rocker itu.  Selama 18 tahun ia tak pernah lagi masuk dapur rekaman. Terakhir, ia merilis album pertamanya, Istana Yang Hilang, pada tahun 1991.

Ayu Laksmi tampil dalam konser peluncuran album terbarunya di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Kamis (25/11/2010). Album yang bertajuk Svara Semesta ini berakar pada syair-syair dengan filosofi lokal dan diramu dengan genre world music. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

Sayang, keberuntungan belumlah berpihak kepadanya. Album tersebut jeblok di pasaran.  Ayu pun benar-benar menghilang. “Saya memilih pulang ke tanah kelahiran dengan hati yang luka,” kata Ayu.

Setelah itu namanya pun tak lagi terdengar di panggung musik industri.  Ia sadar industri bukan tempatnya. Ayu kemudian mulai menjelajah ruang-ruang baru. Sebagai perempuan yang tumbuh di lingkungan masyarakat Bali, kedekatannya terhadap nilai-inlai tradisi begitu kental. Ya, Ayu bermetamorfosis. Tak berkarya di panggung industri, ia justru mendapat kenikmatan dan kecintaan ketika berada dalam ruang tradisi.

Selama beberapa tahun, Ayu memilih berkarya di ruang-ruang yang sunyi. Pada tahun 2006, pasca-bom Bali dua, Ayu seolah mendapat energi baru.

Ia diminta untuk ambil bagian dengan menghadirkan karya yang kental dengan warna Bali. “Saya diminta untuk tampil di acara Bali for the World. Jadi orang asinglah yang menyadarkan saya bahwa kita tak bisa lepas dari tradisi,” kenangnya.

Dari sini, babak baru Ayu mulai hadir. Beragam komposisi tercipta. Tak cuma menjelah pangung-panggung musik bersama Tropical Transit Band, tapi juga membuat ilustrasi musik untuk film. Komposisi-komposisi musik dengan corak world music menjadi pilihan Ayu.

Svara Semesta, yang menjadi album kedunya, menghadirkan sosok Ayu yang baru, dengan citra dan penjelajahan musik berbeda, bahkan lebih berwarna. “Dulu waktu jadi penyanyi rock, saya pakai celana bergambar tengkorak. Sekarang saya memilih untuk tampil sebagai perempuan Indonesia. Kalau sekang banyak perempuan yang ingin tampil sebagai model, saya justru kebalikannya. Saya memilih untuk kembali ke tradisi,” katanya.

Perubahan itu juga tak hanya muncul dalam konsep bermusik, tapi juga pribadi Ayu. Ia kini jauh lebih matang dan legowo. “Sekarang saya tak punya target apa-apa. Semuanya saya serahkan kepada semesta,” ujar Ayu saat disinggung soal target penjualan album terbarunya itu.

Cok Savitri, seniman asal Bali yang juga mentornya, mengibaratkan musik Ayu adalah healing music (musik yang menyembuhkan).  “Hampir semua gerakan napas adalah sebuah meditasi yang menuju satu titik,” katanya.

Musik-musik  Ayu juga  syarat dengan spiritualisme.  Svara Semesta berisi 11 lagu.  Sembilan di antaranya diciptakannya sendiri. Ia membagi karyanya dalam dua ruang yang berbeda, yakni ruang Budaya-Teknologi, serta Manusia.  Empat karya tersaji lewat konsep Budaya-Teknologi, yakni Tri Karya Parisudha (Thinking Good, Saying Good, Doing Good), Wirama Totaka, Duh Hyang Ratih (The Moon), dan Tat Twam Asi (I Am You).

Dalam karya-karya ini, Ayu mencoba berusaha mengutarakan tentang keaguangan Tuhan. Lirik pun disajikan lewat tembang yang kontemporer dalam bahasa sansekerta, Jawa kuno dan Bali.  Sementara lewat ruang Manusia, Ayu menghadirkan siklus kehidupan manusia dari lahir hingga mati lewat Brothers & Sisters, Maha Asa (Big Dream), Here, Now, and Forever More (Om Mani Padme Hum), Ibu, Reinkarnasi, Breathing dan I Am Talking to Myself.

Pada akhirnya, lewat lagu-lagu itu, Ayu mencoba merefleksikan hidup dan kehidupan dengan muara akhir menyerahkan diri kepada Tuhan. Dibantu musisi-musisi kawakan, seperti Eko Wicaksono, Balawan, Dewa Budjana, Bang Saat, Riwin, serta dua arajer asing, Peter Brambi dan Robert Webber juga mencoba memindahkan nilai spiritualitas ke ruang panggung pertunjukan.

[via Kompas.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *