Cinta Suci Ayu Laksmi

Ketika dalam banyak peristiwa pemeluk agama seolah menjadi sumber masalah, kemana manusia mengalirkan hasrat ketuhanannya? Kembali kepada spiritualisme jadi jawaban yang (mungkin) dimaksudkan untuk mengatasi sekat-sekat perbedaan. Spiritualisme dianggap mampu berdiri di atas tata ritual keagamaan yang dinilai cenderung rumit, yang justru makin menjauhkan manusia dari tujuan utamanya: mendekatkan diri kepada Tuhan.

Oleh: Putu Fajar Arcana

Ritus-ritus agama dengan segala doa puja dan mantra di dalamnya, sejak semula dimaksudkan sebagai medium menggalang kesadaran tentang ketuhanan. Tetapi lantaran penonjolan pada unsur perbedaan tata laksana, seringkali justru mendorong perdebatan. Tak jarang perdebatan itu diwarnai dengan konflik, yang kemudian menjadi sumber masalah berlarut-larut. Bisa banyak contoh diajukan soal ini sejak masa Perang Salib di Eropa sampai era Boko Haram di Afrika dan ISIS di Timur Tengah.

Sebenarnya ritus tidak saja mengandung puja, tetapi juga laku kepasrahan badani yang diwujudkan dalam berbagai bentuk. Laku yang paling dekat dengan alam imajinasi kita, yakni seni. Itulah makanya dalam kebudayaan-kebudayaan tua seperti Hindu muncul Dewi Saraswati, di Yunani ada Dewa Appollo, di Mesir ada Dewa Hathor. Ketiganya dipuja sebagai sumber munculnya kesenian, terutama musik.

Setidaknya kenyataan itu membuktikan bahwa laku puja dan musik untuk menyalurkan hasrat spiritual manusia sudah dilakukan beribu-ribu tahun lampau. Bahkan, jauh sebelum zaman Masehi. Hal itu setidaknya memberi gambaran, betapa manusia selalu ingin dekat dengan Semesta atau Zat Yang Maha Agung, yang memungkinkan keberadaannya di dunia.

Konser Ayu Laksmi - Svara Semesta di Gedung Kesenian Jakarta. Photo by Gusti Dibal

Konser Ayu Laksmi – Svara Semesta di Gedung Kesenian Jakarta. Photo by Gusti Dibal

Sebagai penyanyi, Ayu Laksmi berasal dari tradisi yang telah disusun selama berabad-abad itu. Kendati ia pernah menyusur jalur musik pop dan rock, di masa mudanya dahulu, ketekunan dan intensitas penghayatannya kepada “profesi” yang ia jalani telah membawanya “pulang”. Sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup), begitu tradisi Jawa Kuno memberinya predikat. Segala sesuatu yang lahir, hidup, dan tumbuh di dunia pada waktunya akan kembali menuju asal mulanya.

Kelahiran album Svara Semesta 2 tahun 2015 yang berisikan lirik-lirik dari para penyair, kian menegaskan bahwa Ayu Laksmi semakin dalam terlibat dalam ritus-ritus pemuliaan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Ia tengah merunut jalan, yang bolehlah kita beri sebutan “humanisme transendental”, satu laku kemanusiaan yang mengatasi segala sekat religi. Laku pemuliaan kepada kemanusiaan, pada akhirnya akan berujung pada pengagungan nilai-nilai ketuhanan. Di dalam ajaran-ajaran kuno, manusia tak lain adalah percik-percik dari cahaya Illahiah, yang bersumber dari Tuhan.

Oleh sebab itu, pemuliaan kemanusiaan adalah sekaligus pengagungan nilai-nilai ketuhanan. Bahkan beberapa ajaran menyebutkan Tuhan itu ada dalam diri. Pencarian Tuhan adalah penemuan diri sendiri. Ajaran itu semakin diperkukuh dengan paralelitas antara Bhuwana Agung (jagat raya) dan Bhuwana Alit (jagat diri). Unsur-unsur yang ada di dalam diri adalah representasi dari apa yang ada di jagat raya. Maka banyak ajaran spiritual yang “menyatukan” jagat raya dengan jagat diri dengan tujuan menemukan cahaya ketuhanan.

Laku humanisme transendental boleh juga kita sebut dengan istilah populer “cinta suci”, kecintaan yang melebur batas-batas agama dan kelas sosial. Cinta suci Ayu Laksmi adalah cinta yang “keras kepala”. Ia tak lekang oleh waktu serta berbagai deraan kesusahan. Bahkan tubir jurang pun disusurinya untuk kemudian sampai pada pengertian puncak: mendekati Cahaya Illahi.

Humanisme transendental, bukanlah laku ketuhanan an sich. Karena jika begitu, ia akan abai terhadap derita sosial yang ditanggungkan begitu banyak orang di dunia ini. Ia adalah nilai dan lelakon hidup yang diabdikan sepenuh-penuhnya untuk kemanusiaan. Dan karena itu ia mendekati Tuhan. Bunda Theresa dan Mahatma Gandhi, contoh paling benderang, jika kita ingin mendapatkan gambaran di mana cahaya Tuhan itu bekerja dan bermukim. Keduanya adalah pengabdi-pengabdi kemanusiaan dan karena itu juga mengagungkan nilai-nilai ketuhanan.

Sejak Svara Semesta diluncurkan tahun 2010, sudah jelas pertanda bahwa Ayu Laksmi tengah merunut jalan sebagaimana dahulu dilakukan para “wiku”, orang-orang suci dan bijak, yang telah meninggalkan ikatan keduniawiaan dan sepenuhnya mengabdikan diri kepada kemanusiaan dan Tuhan. Syair-syair yang dilantunkannya adalah sari dari segala permenungan, yang ia padatkan dari berbagai sumber nilai.

Konser Ayu Laksmi - Svara Semesta di Gedung Kesenian Jakarta. Photo by Gusti Dibal.

Konser Ayu Laksmi – Svara Semesta di Gedung Kesenian Jakarta. Photo by Gusti Dibal.

Jika di dalamnya terdapat berbagai jalinan bahasa, tradisi, dan mantra suci yang dibiarkan utuh, kecuali dalam soal interpretasi, itulah caranya mempertahankan otentisitas sekaligus menghormati keragaman. Keragaman tidak diperlakukan sebagai sekat, tetapi menunjukkan bahwa berbagai ritus itu toh pada akhirnya berpuncak pada Zat yang satu. Itulah jalan humanisme transendental yang diharapkan menerobos batas-batas ritus untuk kemudian bersama-sama menggemakan pujian, pemuliaan, dan pengagungan nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Cinta yang suci itu selalu membutuhkan yadnya, pengorbanan illahiah tanpa pamrih dan janji….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *