Berbicara J. Couteau tentang Ayu Laksmi

Om Swastiastu

Kau meminta aku menulis tentang lagu-lagu kau, Ayu. Kau yang saya kenal dari lirihnya lagu-lagu yang kau lantunkan di dalam kegelapan malam; kau yang mampu bangunkan haruku mendengar suaramu bergema menuju kekosongan entah di mana, nun jauh di sana, diantara kerdip bintang-bintang ruang angkasa.

Kau memang lain dari penyanyi yang lain, Ayu! Maafkan kelancanganku yang blak-blakan ini. Tetapi bagiku, kebanyakan rekanmu menghanyutkan kita di dalam “kelupaan”. Boleh jadi lagu mereka memikat. Tetapi yang tersalurkan didalamnya pada umumnya hanyalah perasaan-perasaan yang sayangnya primer; rasa sakit, gembira, duka atau cinta. Tidak cukup. Aku tidak suka terlampau terbawa oleh emosi, tidak suka menyaksikan “kelupaan” melekat pada diri tanpa aku mampu menyadarinya. Tak mengherankan bila di telingaku lagu-lagu mereka lewat tak berbekas.

Aku tahu, Ayu! Terdapat juga rekan-rekan kau penyanyi yang lain, yang alih-alih menghanyutkan kita di dalam kelupaan, mengiramakan semangat kebersamaan, demi memberikan makna pada suatu diri yang melampaui batas individu. Boleh jadi mengharukan, dan aku pun kadang bersiap-siap iba dan ikut berbagi dengan mereka, menyadari diri hidup di antara sesama. Namun aku juga prihatin, Ayu! Prihatin kalau-kalau, baru tersadar, kesadaranku itu lenyap di dalam jati diri kolektif yang tidak lagi mewakili diriku. Oleh karena itu, baru tersentuh, aku membiarkan lagu-lagu mereka berlalu tak berbekas pula.

Syukurlah, kau memang berbeda, Ayu! Yang kau ungkap dalam nyanyianmu ialah masalah “diri” yang tak sekedar mendunia, tak sekedar pula terikat sesama, tetapi hadir dalam kesadaran, tidak lupa akan Semesta. Kau nyanyikan jalinan-jalinan kita semua dengan Alam, dengan Ibu, serta dengan para Hyang dan segala unsur nyata (sekala) dan nirnyata (niskala), yang tak ayal melampaui kita. Kau memang tahu dirimu “tidak tahu”. Maka nyanyian kau tak lain adalah panggilan, seruan yang tak pernah lelah kau lontar-lontarkan demi menutup jarak antara dirimu seorang sebagai Buana Alit, dengan diri Sang Semesta Buana Agung, yang kita semua suka menyebut entah sebagai Tuhan, Allah, Yahwe, God, Dieu, Gusti, Widhi dan aneka sebutan lainnya.

Kau “tidak tahu”, memang, tetapi kau juga bukan tanpa mengetahui bahwa masalah “Diri dan Semesta”, sepanjang zaman tak pernah berasal tak pernah berakhir, selain dalam Sangkan-Paran yang disebut Tuhan! Senantiasa ada, dimana pun ada, dan untuk siapa pun pula. Itulah sebabnya lagu yang kau ciptakan dibuat memenuhi ruang dan waktu. Ada kalanya kau bernyanyi dalam bahasa para Dewa pulau kelahiranmu, Bahasa Kawi dan Bahasa Bali. Ada kalanya pula suara kau tampil mengangkasa di dalam Bahasa Indonesia, Latin, Inggris dan bahasa semua orang dari seberang lautan.

Album Svara Semesta 2 karya Ayu Laksmi,  berisi tentang pengagungan terhadap perempuan. Photo by: Eja

Album Svara Semesta 2 karya Ayu Laksmi, berisi tentang pengagungan terhadap perempuan. Photo by: Eja

Yang kau panggil dalam lagumu senantiasa tunggal: sang Asal yang bernama Tuhan, yang kadang kau namakan Hyang, Dewa yang hadir nirnyata/ niskala (lagu Hyang); sang Asal yang kadang kau sebut Ibu: Ibu bagi manusia (lagu Daima), Ibu dari Yesus (lagu Kidung Maria); Ibu alam itu sendiri (lagu Btari Nini dan Tri Hita Karana); dan Sang Asal juga yang adalah diri kau niskala sendiri (lagu Gumam Batin, lagu Duh Atma). Nyanyian kau memang meluruhkan jarak antara “aku” dan “dunia”, menyatukan yang tadinya terasa terpisah. Mencari yang Tunggal, kau turut memadukan semua –aku, dia, kau dan dunia– di dalam kebesaran Semesta.

Tak kurang menariknya juga, Ayu, kau adalah penyanyi wanita Bali; tak mengherankan bila kau mengungkap hasrat khas Hindu-Bali menyatukan diri dengan semesta. Namun, meski Bali memang hadir di dalam lagumu, ialah tanpa “sengaja” kau menghadirkannya. Bukan identitasmu sebagai Bali yang kau serukan, tetapi identitas kau sebagai manusia. Demikian pula dengan bahasa musikalmu. Terdengar “entah apa” dari pulau asalmu, tetapi kau tak segan-segan meminjam dari pulau dan benua lain irama lainnya yang kebetulan kau sukai. Jadi suaramu tak hanya menggapai semesta, tetapi dia juga kerap kali mendunia.

Bisa jadi kau ingin suaramu didengar, Ayu. Maka kau meminta saya menulis kata-kata ini. Tapi kau juga berkata: Jean jangan lupa menyebut mereka yang mengiringi lagu dan perjalanan saya, para juru musik, sang pelukis Batuan pembuat cover khas Bali, para fotografer, dan lain-lain. Dari permintaan itu saya kini tahu, Ayu, bahwa tempatmu yang sesungguhnya bukanlah diantara para penyanyi bintang, tetapi diantara bintang-bintang dari ruang angkasa ke arah mana suara kau senantiasa bergema. Selamat bagi kau, Ayu.

Om Santi Santi Santi Om

Dr. Jean Couteau
Penulis Prancis yang telah banyak menulis baik ilmiah maupun intuitif tentang Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *