Monoplay ‘Psikopat’ Ayu Laksmi Keluar dari Kesan Beauty

Ayu Laksmi berjalan layaknya orang setengah gila mondar-mandir berceloteh soal perkawinan. Ia terlihat geram sambil membanting gelas hingga pecah sebagai luapan ekspresi kemarahan.

Itulah sepenggal penampilan dari penyanyi asal Bali bernama lengkap I Gusti Ayu Laksmiyani saat mementaskan monoplay cerpen sang kakak yang berjudul ‘Psikopat’ yang merupakan satu di antara cerpen yang disuguhkan dalam buku ‘Badriyah’ karya Ayu Weda saat peluncuran di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Jumat, 8 April 2016.

“Ini skenario saya buat sendiri setelah membaca cerpen tersebut yang dasarnya adalah true story,” kata Ayu Laksmi seusai peluncuran buku ‘Badriyah’ di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Jum’at, 8 April 2016.

Menampilkan sebuah monoplay adalah pengalaman pertama Ayu Laksmi. Penyanyi yang telah meluncurkan album solo bertajuk Svara Semesta itu menjelaskan waktu yang ia siapkan untuk membuat skenario ‘Psikopat’ sangat singkat disela kesibukannya. “Persiapan selama dua hari saya tulis dialog, untuk skenario dan kronologis termasuk persiapan properti apa saja yang dibutuhkan,” tutur Ayu Laksmi.

Dinamika untuk materi pertunjukkan, menurut Ayu Laksmi, sangat ia pikirkan untuk persiapan sebelum dipentaskan untuk menjaga emosi para penonton yang hadir menyaksikan penampilannya. “Ini sebuah pertunjukan yang merupakan pengalaman pertama saya.”

Menurut Ayu Laksim, untuk mementaskan sebuah pertunjukan monoplay ‘Psikopat’ selama 18 menit sebagai pengalaman pertama penuh tantangan tersendiri baginya. “Saya orang musik yang biasa mengatur dinamika secara lagu, banyak hal yang mendukung sehingga kita tidak menjadi sendiri,” tuturnya. “Biar orang yang memberi judul pertunjukan seperti itu apa monolog, monoact atau monoplay.”

Ayu Laksmi memilih cerpen ‘Psikopat’ untuk dipentaskan karena ia ingin mencoba keluar dari kesan ‘the beauty’ yang identik dengan penampilannya sebagai penyanyi. “Saya ingin keluar dari kesan selama ini sebagai Ayu Laksmi dan Svara Semesta. Saya ingin keluar total dari the beauty, keluar dari keindahan dan kelembutan di mana lagu-lagu saya selalu bercerita positif, karena saya selalu percaya nyanyian adalah do’a,” ujarnya.

Adapun Didon Kajeng, salah satu pengunjung yang hadir di acara peluncuran buku ‘Badriyah’ mampu merasakan cerpen ‘Psikopat’ yang dipentaskan secara monoplay oleh Ayu Laksmi. “Saya paling sangat bisa merasakan cerita pertentangan dan gejolak kejiwaan, saat Ayu Laksmi tampil,” katanya.

Didon merupakan penyandang tuna netra yang tergabung dalam Komunitas Seni Tuna Netra (Kostra) yang sudah hampir satu tahun bersama 11 orang teman tuna netra menggeluti puisi dan cerpen. Ia hadir untuk mengapresiasi langsung karya sahabatnya, Ayu Weda. “Saya berharap Ayu Weda terus berkarya dan bisa menggali tema-tema yang lebih berani lagi,” tuturnya.

Sumber berita : Tempo.Co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *