Musik Teatrikal Ayu Laksmi – Svara Semesta

Alkisah, seekor kera betina dengan surai yang lebat dan panjang berdiam di sebatang pohon enau. Di bawahnya air deras mengaliri sungai yang membentang jauh hingga ke laut. Kera bersurai itu bernama I Niang-niang. Kera betina berwajah manusia itu, demi durga, dia sungguh jelita. Kata angin, dia cantik tapi hanya sepenggal kepala.

Saban purnama, I Niang-niang melompat ke sebuah batu datar yang permukaannya lebar tepat di bawah batang enau. Duduk mencangklung menatapi sang bulan. Penuh bahagia dipandanginya bulan di langit itu sehingga sang bulan berbisik, “Lihatlah bayanganmu ke air. Lihat, hei kera jelita”. Dengan senang hati, I Niang-niang melongok. Takjub terpesona dia menatapi bayangan wajahnya yang sungguh jelita. Tanpa terasa ia menengok ke arah tubuhnya. Alangkah pedih hatinya menyadari bayangan kecantikannya di sungai hanyalah tipuan sebab tubuhnya berbulu dengan surai yang panjang. Menjeritlah dia sekuat-kuatnya, menyebut dirinya dengan sesal yang membuat sang bulan tergetar, lalu memudarkan cahayanya, dan berbisik, “Janganlah engkau demikian bersedih. Tahukah engkau, jeritanmu menjadi tanda datangnya kematian?”

I Niang-niang tak peduli, menjerit sekuat hatinya sambil melihat bayangannya di air. Sang bulan memancarkan cahaya, menerangi seluruh pemandangan malam. “Lihatlah, betapa banyak yang lebih menderita darimu. Lihatlah, betapa banyak kehidupan yang tak sempurna. Namun bukankah semua itu sesungguhnya anugrah?”

I Niang-niang melenguh, kembali memandangi sang bulan. Namun air matanya menetes, suaranya pedih benar terdengar. “Sekali waktu, izinkan aku lahir sebagai manusia yang utuh. Kenapa hanya wajah, hanya sepenggal hambamu sebagai manusia dan sisanya adalah kera?” Sang bulan menyahut lembut, “Sebab engkau anugrah yang istimewa, pelayan terkasih dari Sang Durga, penjaga purnama yang setia, dan penanda perjalanan ke alam sunya.”
Demikian garis besar kisah yang dipentaskan Ayu Laksmi-Svara Semesta, Minggu (3/7) pukul 20.00 Wita di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar.  Laksmi tidak sendiri. Dalam pertunjukan ini, ia didukung penuh oleh beberapa seniman Bali seperti Bulan Trisna Djelantik, Nyoman Sura, Cok Sawitri, Dayu Ani, Ana Anandi, serta puluhan anak-anak dari Bhumi Bajra.

Dengan membaca musik teatrikal Svara Semesta tersebut, banyak gagasan diselipkan yang dikemas menggunakan bahasa-bahasa simbolik lewat tari, nyanyian, dan musik. Secara kontekstual, kisah tentang I Niang-niang ini sangat menarik mengingat saat ini masyarakat cenderung lupa (atau barangkali enggan?) untuk menarik dan kembali ke kedalaman diri: melakukan instropeksi terhadap segala hal.

“Penyampaian gagasan, baik itu berupa teguran atau nasehat, lewat musik teatrikal sangatlah efektif karena mampu menekan ketersinggungan atau kesan menggurui yang tak jarang dirasakan para penerima gagasan,” ujar Cok Sawitri, art director musik teatrikal Svara Semesta. “Pertunjukan ini boleh dikatakan sebagian kecil garapan yang tengah mereka persiapkan. Ke depan, pertunjukan-pertunjukan semacam ini akan sering dilakukan dengan melibatkan ratusan penari,” tambah Ayu Laksmi.

Sementara Ana Anandi, penari sekaligus impresario, musik teatrikal Svara Semesta sebisa mungkin akan melibatkan seluruh elemen kesenian yang ada di Bali. “Saya ingin mendorong tumbuh kembangnya kesenian. Kami sendiri baru menyepakati berdirinya Bunda Semesta sebagai sebuah wadah kreativitas seni yang dimiliki kreator-kreator seni di Bali. Seperti yang bisa dilihat, seniman-seniman yang tampil dalam musik teatrikal ini adalah mereka yang memiliki nama hingga ke dunia internasional. Ayu Laksmi, Cok Sawitri, Bulan Trisna Djelantik, Nyoman Sura, misalnya. Secara kualitas dan kapasitas, mereka tak perlu diragukan. Demikian pula Bhumi Bajra. Mereka pernah menjadi duta kebudayaan ke seluruh dunia, seperti saat Olympiade Yunani,” pungkas Ana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *