Kentut Kebudayaan dalam Semesta Bunyi

Jika peradaban tidak membenarkan kentut diperdengarkan, maka kebudayaan memungkinkan kentut diproses sebagai musik yang kaya gagasan. Kajian budaya akan menunjukkan, kentut sebagai suara alamiah telah mendapat tekanan berkepanjangan, mendapat beban makna hegemonik sebagai ketidaksantunan. Jika politik kebudayaan ini menghargai kesehatan, sudah jelas anasir gastritis seyogyanya tiada diperkenankan bersemayam di dalam usus, agar sistem perestaltik tetap berlangsung normal.

Oleh SENO GUMIRA AJIDARMA

Konflik kepentingan dalam kasus ini, Peradaban Vs. Alam, menghasilkan kesetimbangan kompromis dalam praxis bernama kentut diam-diam, yang ketika aromanya menjadi bencana alam, bagai mengesahkan dominasi hipokrisi dalam kebudayaan. Penalaran telah membongkar stigma kentut, tetapi umat manusia tiada berdaya mengubah kontrak sosial yang diabadikan kelompok dominan, para penentu salah dan benar yang argumennya sebatas mitos doang.

Dengan kata lain, bunyi takbisa hadir hanya sebagai bunyi, suara takbisa hadir hanya sebagai suara. Ada bunyi beradab dan ada bunyi tidak beradab, ada suara berbudaya dan ada suara kurang berbudaya, ada pergulatan antarwacana atas kuasa untuk menetapkan makna, demi politik identitas setiap kelompok yang berjuang demi makna ideologis itu. Bunyi-bunyi dan suara-suara terpenjara dalam norma, yang dalam konteks semesta suara sebetulnya tidak memiliki makna apa-apa, tetapi sekaligus betapa susahnya membayangkan bunyi dan suara mengada tanpa penafsiran apapun jua.

Seseorang yang hidup dalam semesta bunyi tentu mengalami bagaimana ideologi telah melakukan intervensi bagi kemandirian bunyi-bunyi. Sehingga ketika seseorang berusaha menyusun pembermaknaannya sendiri, ia berada dalam pilihan: apakah membebaskan segala suara dan bunyi dari keterjajahannya, ataukah memanfaatkan saja keterjajahan segala suara dan bunyi itu demi tujuan musikalnya sendiri. Penjajahan makna suara dan bunyi ini datang mulai dari industri sampai tidak kurang-kurangnya pula adalah tradisi, segala kentut kebudayaan dalam semesta bunyi.

Salah satu adegan monolog dalam Live Theatrical Music Performance Ayu Laksmi - Svara Semesta: Love@1Point, 21 Februari 2015 di Gedung Kesenian Jakarta. Photo by Gusti Dibal.

Salah satu adegan monolog dalam Live Theatrical Music Performance Ayu Laksmi – Svara Semesta: Love@1Point, 21 Februari 2015 di Gedung Kesenian Jakarta. Photo by Gusti Dibal.

Betapapun, pilihan ini merupakan kemewahan yang hanya dimiliki pekerja musik berkesadaran, yang tahu-menahu apa yang dicari, dikerjakan, dan ditemukannya. Dengan latar belakang seperti itu, jelas sebagai orang yang kurang pengetahuan dalam seluk-beluk seni musik, saya kehilangan hak untuk menilai dan menghakimi Svara Semesta, maupun Svara Semesta II. Namun, ya, saya mengenal Ayu Laksmi, Laks DeLuxe, yang melakukan penjelajahan dalam semesta suara, dengan penghargaan yang setara atas segala bunyi dan suara.

Dalam penghargaan itu, apalagi atas suaranya sendiri, sikap dan pendekatannya itu sama sungguh-sungguhnya, baik ketika suara itu digunakan untuk bernyanyi, berdialog untuk teater dan film, maupun membaca prosa. Ya, saya pernah menjerumuskannya untuk membacakan “Seruling Kesunyian”, puisi prosaik yang tidak mungkin dibaca seperti membaca cerpen dan membutuhkan nafas panjang, sekaligus mempercayakan penggarapan musiknya yang mesti membunyikan kesunyian itu.

Saya kira tugas rumit itu dilaksanakannya dengan sangat baik. Apakah saya nekat memberikan tugas itu? Sebetulnya yang saya pertimbangkan adalah sikapnya yang selalu bersungguh-sungguh. Akan hal sisanya, memang tadi saya sebut menjerumuskan, dalam konteks menjerumuskan orang yang baru mau belajar berenang. Dengan kemampuan yang dimilikinya, saya yakin betul Laks bakal mengambang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *