Kisah Dibalik Pembuatan Album Svara Semesta 1

Album Svara Semesta | Foto: I Gusti Dibal

Album Svara Semesta | Foto: I Gusti Dibal

Nama Ayu Laksmi telah menjadi perbincangan sejak tahun 80an hingga memasuki tahun 90an. Setelah merilis album Istana yang Hilang karya Raidy Noor, perempuan asal Singaraja, Bali itupun hilang bersamaan ‘istananya’ yang telah ia bangun sejak kecil di dunia rock n roll.

Lama menghilang, Ayu Laksmi ber-reinkarnasi dengan tampilan baru, bertolak belakang dari latar yang digelutinya ketika masuk industri tarik suara Indonesia. Svara Semesta lahir dari hasil pertapaannya selama 18 tahun dari masa kejayaannya pada saat itu, dan merupakan bagian dari suara Ayu Laksmi yang hilang.

Banyak pihak yang menyokong anak terakhir dari empat bersaudara itu, dalam proses penggarapan album Svara Semesta. Eko Wicaksono, seorang music director dan arranger ternama di Indonesia membantu Ayu Laksmi dalam membuat beberapa aransemen lagu di album Svara Semesta I. Selain Eko Wicaksono, nama besar lainnya yang turut serta membantu penggarapan lagu-lagu Ayu Laksmi, yakni Dewa Budjana, arranger music dari luar negeri Peter Brambl dan Robert Webber. Dukungan sastrawan ternama Indonesia juga mengalir kepadanya, beberapa di antaranya, Cok Sawitri, Sugi Lanus, Seno Gumira Ajidarma, Putu Fajar Arcana, dan lainnya.

Album Svara Semesta 1 dilahirkan Ayu Laksmi lantaran hatinya terketuk untuk menyelamatkan Bali baik itu tradisi, tanah, dan juga masyarakatnya, yang pada saat itu telah terjadi tragedi Bom Bali dan diminta menjadi bagian dalam sebuah karya yang kental dengan nuansa Bali.

“Disinilah mereka (orang asing) mencoba menyadarkan saya akan arti tardisi dan kebudayaan yang tak bisa saya lepas begitu saja,” jelasnya yang dikutip dari wawancara Tribunnews.com.

Sebanyak 11 lagu dihadirkan Ayu Laksmi yang memiliki lirik dari berbagai bahasa yakni Bahasa Inggris, Bahasa Sansekerta, Bahasa Jawa Kuno dan juga Bahasa Bali. Album Svara Semesta 1 terdiri dari dua ruang ; ruang budaya dan teknologi, ruang manusia.

Ruang budaya dan teknologi didominasi cerita tentang pengagungan Tuhan,dan Semesta dengan gaya ungkap tembang kontemporer dalam Bahasa Sansekerta, Jawa Kuni, dan Bali. Terinspirasi dari Kekawin (kidung suci) sebagai warisan budaya leluhur yang sarat akan filosofi. Untuk menyeimbangkan tema dan bahasa yang terksesan berat, beberapa komposisi music dalam ruang ini disajikan dalam balutan ala Nu Sound Technologi. Sedangkan ruang keduanya mengisahkan tentang lahir, hidup dan mati yang dimainkan manusia sesungguhnya.

“Saya percaya kepekaan rasa manusia tidaklah dapat tergantikan. Meski teknologi telah cukup berhasil memainkan perannya dalam dunia moderen. Dalam ruang ini saya berbagi dengan para sahabat, musisi yang berempati terhadap kegelisaha saya untuk berkarya.”

Langkah kecil, langkah besar berawal dari rumah. Berdasarkan pemahaman ini pula ia mengadakan soft launching album Svara Semesta di rumahnya sendiri, sekaligus berharap bisa memberikan motivasi agar Bali Utara kembali menggeliat dengan budaya tandingannya.

Bertepatan dengan Purnama Kapat yang dipercaya masyarakat Bali dapat memberikan vibrasi lembut untuk jiwa dan meningkatkan spiritualitas, sekaligus awal pijak para seniman untuk merespon alam serta mewujudkannya dengan beragam karya, Ayu Laksmi memutuskan memulai pekerjaannya di Warung Lapau, Sanur pada siang hari. Kemudian di malam harinya, Ayu Laksmi memasuki pertapaan di Pura Besakih. Pada saat yang bersamaan, hari itu merupakan hari wafatnya Ayah kandung Ayu Laksmi, dimana ia merasa bahwa darah seni yang mengaliri tubuhnya berasal dari gen ayahnya I Gusti Putu Wiryasutha, yang wafat sejak Ayu Laksmi berusia 4 tahun.

2 Comments on “Kisah Dibalik Pembuatan Album Svara Semesta 1

  1. Teruslah berkarya… sahabatku…
    Kangen banget sama Atoek yang suka gigitin lengan saya sampai biru..
    ketika masih di sma 1 singaraja,

    kira-kira masih ingatkah..?????????
    saya tunggu karya-karyanya!!!

  2. bunanto adi says:

    sounding classically…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *