Pemanggungan

Rico Mantrawan (KEYBOARD)

Pertama kali bermusik dalam sebuah band keluarga saat berusia belia bersama kakak-kakaknya, Rico Mantrawan telah mengetahui jika dirinya dilahirkan untuk musik. Melatih skill dan kepekaan rasa secara otodidak, saat ini Rico menjadi salah satu keyboardist di Bali yang cukup diperhitungkan. Dalam proses kreatif bermusiknya, ia pernah mendukung beberapa band dan musisi, diantaranya Balawan, Maya Hasan, Tropical Transit, dan terakhir Svara Semesta Ayu Laksmi.

 

Doddy Sambodo (BASS)

Sejak mendengar musik saat berusia 3 tahun, Doddy Sambodo langsung memiliki ketertarikan yang sangat besar. Ia pun mulai mendalaminya secara bertahap, dari penikmat menjadi pelaku. Kecintaan pada musik pula yang akhirnya melabuhkan pria yang sempat mengikuti kursus singkat di Vidi Vici Music ini dalam gairah bermusik di Bali, misalnya bergabung di Djampiro Band (rhythm section), Baio Band, dan menjadi bassist di Svara Semesta Ayu Laksmi.

 

I Gede Agus Yudhana (GITAR)

Ketika menyatu” dengan gitar, I Gede Agus Yudhana seringkali menjadi sosok “autis” yang humoris. Sejak pertama kali ikut berlatih musik bersama orang tuanya saat berusia 4 tahun, ia memiliki ketertarikan besar untuk mengembangkan diri secara otodidak, dengan musik keroncong sebagai basic. Keroncong yang menjadi dasar proses kreatifnya akhirnya memberi warna tersendiri yang memperkaya komposisi Svara Semesta Ayu Laksmi, dimana Gede Yudhana menjadi salah satu saksi dalam proses kreatif penciptaan karya-karya “cantik” Ayu Laksmi tersebut.

 

Ajat Lesmana (DIDGERIDOO & PERKSUSI)

Mencintai musik tradisi dan world music, Ajat Lesmana memilih didgeridoo –alat musik suku Aborigin, dan perkusi untuk menciptakan wilayah kreatifnya. Sejak pindah ke Bali, pria kelahiran Bandung ini memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap gairah bermusik di Pulau Seribu Pura. Ia pun mulai bergabung dengan beberapa kelompok musik seperti Planet Bamboo dan Saharadja, kemudian menjadi salah satu bagian Svara Semesta.

 

Afan Latanete (PERKUSI)

Meski tidak lahir dan dibesarkan di keluarga musisi, Afan Latanete tumbuh sebagai seorang pemusik berbakat. Baginya, pengalamanlah yang melatih kepekaan rasa atas kandungan musikalitas sebuah karya cipta. Ia pun mendalami perkusi secara otodidak, sembari melatih skill-nya bermusiknya pada salah satu dosen ISI Yogyakarta. Hingga kini, sama sekali ia tak pernah berhenti melatih kepekaan rasa, salah satunya bergabung dengan Svara Semesta Ayu Laksmi.

 

Ida Bagus Putu Brahmanta (DRUM)

Memiliki ketertarikan yang besar sejak kecil, Ida Bagus Putu Brahmanta akhirnya memilih musik sebagai bagian utama kehidupannya. Saat ini, drummer yang akrab disapa Gustu ini dapat dikatakan salah satu drummer terbaik di Bali, bahkan di usianya yang masih relatif muda. Eksplorasi drum yang dimainkan seolah merekam kembali proses kreatifnya. Pukulan yang kuat dan menghentak yang banyak dipengaruhi drummer dunia seperti John Bonham, Vinnie Colaiuta, Elvin Jones merupakan kombinasi sempurna antara seni kontemporer dan tradisi. Sejak berusia 7 tahun, Gustu mulai melatih “rasa” lewat koleksi karya-karya musik dunia milik ayahnya, seperti Deep Purple. Sementara di saat bersamaan, ia juga memiliki ketertarikan yang besar terhadap seni tradisi Bali.

 

I Dewa Gede Agung Perdana Putra (GITAR)

I Dewa Gede Agung Perdana Putra, Amd. Mus., yang akrab disapa Agung PP lahir dalam keluarga pecinta seni dan pemain musik. Ayahnya adalah pemain gitar klasik dan penikmat musik, dan sebagian besar keluarga ibunya merupakan seniman seni rupa. Sementara pamannya sendiri merupakan pemililk recording studio pertama di Yogyakarta. Ia sempat mengikuti kursus gitar klasik di Vidi Vici Music Course Denpasar selama 1 tahun, sebelum akhirnya memutuskan kembali belajar secara otodidak. Agung juga menempuh pendidikan Jurusan Musik di Akademisi Musik Yogyakarta pada tahun 2003, sekaligus membuat album berformat DVD live dalam jumlah terbatas berjudul Agung ‘n Hits Mates, Unknown Jazz Concert, berbarengan dengan tugas akhirnya di tahun 2006.

 

Batuan Ethnic Fusion (BEF)

Dibentuk pada tanggal 22 Juni 1997, Batuan Ethnic Fusion (BEF) bereksplorasi lebih jauh dengan elemen-elemen musik etnik Bali. Dalam proses kreatifnya, BEF menunjukkan suatu puncak perpaduan musik etnik dan kontemporer sebagai wilayah penjelajahan musikalitas, memperlihatkan dinamika, ritme, dan tempo yang sering berubah drastis sebagai karakteristik gamelan Bali. Mulai dikenal lebih luas ketika mendukung Balawan, kini empat orang personel BEF, yakni I Nyoman Suwida; I Wayan Sudarsana (Mangku); I Wayan Suastika (Pecok); dan I Nyoman Suarsana (Lave), turut memperkuat Ayu Laksmi dalam Svara Semesta.

 

I Nyoman Suwida

Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang mendedikasikan diri sebagai “penjaga kesenian tradisi” di Batuan, Gianyar, khususnya seni tari, I Nyoman Suwida memiliki ambisi yang besar untuk menyejajarkannya dengan seni kontemporer, lewat gamelan sebagai mediasi. Tahun 1997 dapat dikatakan sebagai titik balik karir bermusiknya. Wayan Balawan, yang juga merupakan teman Suwida magambel saat kanak-kanak, memintanya ikut merintis Batuan Ethnic Fusion. Di sinilah akhirnya Suwida berhasil mencapai misinya untuk menyejajarkan dan menyandingkan musik tradisi dan kontemporer dengan harmonis, tanpa persinggungan satu sama lain.
I Wayan Sudarsana

I Wayan Sudarsana dilahirkan di Batuan, Gianyar. Sebagai salah satu bagian masyarakat yang tumbuh dan berkembang, pria yang akrab disapa Mangku mengalir di dalamnya, melestarikan musik tradisional genggong yang terkenal di desa budaya tersebut. Dalam gairah bermusiknya, Mangku banyak terinspirasi dari kakek dan beberapa teman sepermainan masa kecil. Ia pun kemudian bergabung dengan Batuan Ethnic Fusion, kemudian menjadi bagian Svara Semesta untuk lebih memperkenalkan musik tradisional daerah Bali.
I Wayan Suastika

Sejak bersentuhan dengan musik saat duduk di bangku SMP, khususnya gamelan Bali, I Wayan Suastika intens mendalaminya sebagai bentuk kecintaan terhadap tradisi lokal. Belajar secara otodidak, Pecok, demikian ia akrab disapa, sangat mengagumi Alm. Mandra. Ia pun kemudian bergabung dengan Batuan Ethnic Fusion di tahun 1997, kemudian menjadi salah satu musisi yang memberi sentuhan tradisi lokal Bali di Svara Semesta Ayu Laksmi.
I Nyoman Suarsana

Lahir dan besar di lingkungan yang mengapresiasi seni, I Nyoman Suarsana menjadi sosok yang begitu mencintai kesenian tradisi. Kecintaan itu pula yang mendorong Lave untuk menyelami kekayaan tradisional Bali di ISI Denpasar. Keahliannya memainkan musik tradisi inilah yang akhirnya melabuhkan keinginan Lape bergabung ke Batuan Ethnic Fusion, kemudian memperkuat Ayu Laksmi dalam albumnya, Svara Semesta, melakukan eksplorasi dengan menggabungkan musik tradisi dan kontemporer.